Ekonomi Kota Bandung 2026 Tumbuh di Atas 5 Persen, Fiskal Daerah Sangat Sehat
BANDUNG, Djabar.com – Kondisi ekonomi Kota Bandung menunjukkan tren positif yang sangat signifikan pada awal tahun 2026. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ekonomi daerah saat ini telah menembus angka di atas 5 persen, selaras dengan performa ekonomi Jawa Barat secara umum.
Selain pertumbuhan yang agresif, stabilitas harga di pasar juga terjaga dengan baik. Farhan mencatat angka inflasi Kota Bandung tetap terkendali di bawah level 3 persen. Kombinasi pertumbuhan tinggi dan inflasi rendah ini menjadi sinyal kuat bahwa daya beli masyarakat dan distribusi barang di Kota Kembang berada dalam jalur yang tepat.
Kesehatan Fiskal dan Lonjakan Pajak Restoran
Muhammad Farhan menegaskan bahwa saat ini kondisi ekonomi Kota Bandung 2026 didukung oleh fondasi fiskal yang sangat sehat. Salah satu indikator utamanya adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang mengalami lonjakan impresif hingga di atas 15 persen. Menariknya, sektor kuliner menjadi pahlawan utama dalam capaian ini.
“Kami sangat mengapresiasi para pengelola restoran yang disiplin dalam menyetorkan pajak 10 persen. Kontribusi mereka nyata dalam membangun kota,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Kamis (19/2/2026).
Meskipun tren kunjungan wisatawan mulai bergeser ke arah “pulang-pergi” tanpa menginap, sektor perhotelan ternyata tidak kehilangan tajinya. Pendapatan dari pajak hotel tetap merangkak naik. Hal ini dipicu oleh penyesuaian harga kamar serta dominasi kunjungan pada hotel-hotel berbintang yang tetap menjadi pilihan utama segmen pasar tertentu.
Strategi Event sebagai Motor Ekonomi Baru
Pemerintah Kota Bandung nampaknya tidak ingin cepat puas. Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Kota Bandung, Farhan berencana memperkuat ekosistem wisata berbasis kegiatan atau event-based tourism. Strategi ini melibatkan penyelenggaraan festival budaya, konser musik, hingga turnamen olahraga skala besar.
Bandung bersiap menjadi tuan rumah agenda bergengsi seperti Pekan Paralimpik Daerah dan menjadi penyangga utama Pekan Olahraga Provinsi. Farhan percaya bahwa kerumunan massa yang tercipta dari pertandingan Persib atau Satria Muda adalah mesin uang bagi UMKM dan jasa transportasi lokal.
“Ekonomi itu berputar kencang melalui event. Saat tribun penuh, hotel dan rumah makan di sekitarnya pasti ikut merasakan dampaknya,” tambahnya dengan nada santai namun optimis.
Tantangan Transisi BPJS dan Kemiskinan Ekstrem
Di balik angka pertumbuhan yang mentereng, Pemkot Bandung tetap memberikan perhatian khusus pada isu sosial. Meski angka kemiskinan ekstrem berhasil ditekan, muncul tantangan baru terkait warga yang masuk dalam kategori desil 6. Kelompok ini secara aturan tidak lagi masuk sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan.
Mengutip laporan dari Humas Kota Bandung, Farhan memastikan bahwa sistem administrasi kependudukan sudah sangat rapi untuk menangani masa transisi ini. Bagi warga yang berada di ambang batas tersebut, pemerintah daerah menyiapkan skema bantuan melalui program Universal Health Coverage (UHC).
Langkah ini diambil agar tidak ada warga yang terhambat mendapatkan layanan kesehatan hanya karena perubahan status ekonomi. Dengan manajemen fiskal yang sehat, Bandung optimistis mampu menyeimbangkan antara pembangunan infrastruktur ekonomi dan perlindungan sosial bagi warganya.
Sumber Informasi: Disarikan dari rilis resmi Humas Kota Bandung dan keterangan Kepala Diskominfo Kota Bandung.
Hot Hot Rekomendasi Hunian
Info kerjasama iklan properti? Hubungi Admin djabar.com








