Waspada Lonjakan Tunawisma di Titik Wisata Bandung Jelang Libur Panjang: Benarkah Mayoritas Pendatang?
BANDUNG – Menjelang momen libur panjang yang diprediksi akan menyedot ribuan wisatawan, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung kini tengah bersiaga penuh. Fokus utamanya bukan sekadar mempercantik kota, melainkan mengintensifkan penanganan terhadap fenomena tunawisma, gelandangan, dan pengemis (PMKS) yang kerap “menjamur” di pusat-pusat keramaian.
Langkah preventif ini diambil berkaca pada pengalaman libur Natal dan Tahun Baru sebelumnya. Saat itu, peningkatan jumlah tunawisma di kawasan pusat kota menjadi tantangan tersendiri bagi estetika dan kenyamanan publik.
Tren Peningkatan Tunawisma 2025: Sebuah Alarm bagi Kota Bandung
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun Dinsos Kota Bandung sepanjang tahun 2025, angka tunawisma memang menunjukkan tren kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan tahun 2024. Peningkatan ini terbagi ke dalam tiga kategori utama:
- Gelandangan: Tercatat sebanyak 156 jiwa pada 2025, naik tajam dari 113 jiwa di tahun sebelumnya. Sebanyak 129 jiwa berhasil dijangkau tim Unit Social Response (USR).
- Pengemis: Mengalami kenaikan dari 188 jiwa (2024) menjadi 223 jiwa pada 2025.
- Pemulung: Tercatat sebanyak 57 jiwa, meningkat dari angka 41 jiwa di tahun sebelumnya.
Analisis Redaksi: Lonjakan angka ini memberikan sinyal kuat bahwa daya tarik ekonomi Kota Bandung masih menjadi magnet besar, namun di sisi lain menjadi beban sosial yang semakin berat bagi pemeliharaan ketertiban kota.
Fakta Mengejutkan: Mayoritas Berasal dari Luar Daerah
Satu hal yang menarik untuk dicermati adalah asal-usul para tunawisma ini. Data Dinsos mengungkap bahwa mayoritas dari mereka bukanlah warga lokal Bandung.
Untuk kategori gelandangan, misalnya, dari 156 orang yang terdata, sebanyak 125 orang merupakan pendatang dari daerah seperti Kabupaten Bandung, Garut, hingga Bandung Barat. Bahkan, ditemukan sekitar 10 orang yang berasal dari luar Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa isu tunawisma di Bandung adalah masalah lintas wilayah yang memerlukan koordinasi antar-daerah yang lebih erat.
Membedah 20 Titik Rawan “Wajah” Kota
Dinsos telah memetakan setidaknya 16 hingga 20 lokasi strategis yang menjadi pusat konsentrasi tunawisma. Kawasan ini merupakan jantung pariwisata Bandung, antara lain:
- Jalan Ir. H. Juanda (Dago) dan Jalan Merdeka.
- Kawasan Braga dan Asia Afrika (Simpang Lima).
- Taman Vanda, Taman Saparua, dan Taman Lalu Lintas.
- Jalan Riau, Jalan Naripan, dan kawasan Cihampelas.
Solusi Jangka Panjang: Bukan Sekadar Penertiban
Dinsos menegaskan bahwa penanganan tidak berhenti pada pengangkutan ke rumah singgah. Mereka yang terjaring akan melewati proses berikut:
- Rehabilitasi & Pembinaan: Menjalani bimbingan mental dan spiritual selama tujuh hari di rumah singgah.
- Asesmen Lanjutan: Menentukan apakah mereka akan dipulangkan ke daerah asal (reunifikasi) atau dirujuk ke lembaga sosial yang lebih spesifik.
- Edukasi Masyarakat: Dinsos berkolaborasi dengan Satpol PP dan ATCS untuk mengimbau masyarakat agar tidak memberi uang di jalanan, karena praktik tersebut dinilai justru melanggengkan persoalan sosial ini.
Kesimpulan
Upaya “beautifikasi” dan penertiban menjelang libur panjang ini sangat krusial agar Bandung tetap memberikan kesan positif bagi wisatawan. Namun, tantangan terbesarnya adalah memastikan para tunawisma tidak kembali ke jalanan (residivis) setelah pembinaan selesai dilakukan.
Hot Hot Rekomendasi Hunian
Info kerjasama iklan properti? Hubungi Admin djabar.com








