Wali Kota Bandung Tegaskan Komitmen Jangka Panjang Atasi Persoalan Sampah
Bandung – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa persoalan sampah saat ini menjadi tantangan paling besar yang dihadapi Kota Bandung dan mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota.
Hal tersebut disampaikan Farhan saat menghadiri Pagelaran Seni Wanda Sunda, Sabtu (17/1). Ia mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir dirinya lebih banyak turun langsung ke lapangan untuk memastikan berbagai persoalan perkotaan, terutama pengelolaan sampah, dapat ditangani secara terukur dan berkelanjutan.
Menurut Farhan, timbulan sampah di Kota Bandung mencapai sekitar 1.500 ton per hari. Jumlah tersebut, kata dia, tidak bisa dibiarkan tanpa penanganan yang serius dan sistematis.
Ia menekankan bahwa penanganan sampah tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan fondasi yang kuat serta perencanaan matang agar solusi yang diterapkan tidak bersifat sementara, melainkan mampu menjawab kebutuhan jangka panjang.
Farhan menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Bandung tengah membangun kerangka penanganan sampah untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan. Kerangka tersebut diharapkan menjadi dasar pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Ia juga memastikan komitmen pemerintah kota tidak berhenti pada tataran kebijakan, tetapi diwujudkan melalui langkah konkret di lapangan. Selain itu, Farhan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan Kota Bandung.
Di sela penyampaiannya, Farhan menyambut positif pelaksanaan Pagelaran Seni Wanda Sunda. Ia mengapresiasi peran para seniman, akademisi, pegiat budaya, dan tokoh senior yang terus menjaga dan memperkuat kebudayaan di tengah berbagai tantangan perkotaan.
Menurutnya, dunia akademik memiliki peran strategis dalam perkembangan kebudayaan. Melalui kajian akademis, masyarakat dapat memahami akar sejarah, makna, serta arah masa depan karya seni dan ekspresi budaya.
Farhan juga merefleksikan perjalanan panjang Kota Bandung yang terus mengalami perubahan, mulai dari kota kosmopolitan pada awal abad ke-20, masa gejolak di pertengahan abad, hingga periode kemapanan pada era 1980–1990-an, sebelum kembali menghadapi dinamika baru di abad ke-21.
Ia menilai setiap fase perubahan tersebut tidak pernah terlepas dari kekuatan nilai budaya yang dimiliki Bandung. Nilai-nilai itu, menurutnya, mampu mengikat siapa pun, termasuk mereka yang bukan lahir di kota ini.
Farhan mengaku dirinya merupakan salah satu pendatang yang kemudian memiliki keterikatan kuat dengan Bandung. Meski lahir di Bogor, ia merasa budaya Bandung telah membentuk dirinya sejak menetap di kota tersebut pada 1975.
Dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 15 ribu jiwa per kilometer persegi, Farhan menilai Bandung telah berkembang menjadi ekosistem pemikiran yang unik. Proses asimilasi dari berbagai wilayah—utara, selatan, timur, hingga barat—melahirkan ragam karakter serta ekspresi budaya yang memperkaya identitas Kota Bandung.
Hot Hot Rekomendasi Hunian
Info kerjasama iklan properti? Hubungi Admin djabar.com








